JOMBANG, nusampang.com.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan NU sejak awal didirikan sebagai ikhtiar untuk mengukuhkan negara bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu, NU ke depan harus mampu menjadi penyangga negara sekaligus membantu memastikan program pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.

Hal itu disampaikan Gus Yahya dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/06/2026). Muktamar kali ini mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Gus Yahya mengatakan Muktamar ke-35 dihadiri sekitar 2.232 perwakilan delegasi dari berbagai pengurus wilayah dan pengurus cabang NU di seluruh Indonesia. Di luar arena muktamar, sekitar 50 ribu warga dan pencinta NU juga disebut hadir untuk memeriahkan kegiatan tersebut.

Menurut Gus Yahya, jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari besarnya basis warga NU yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia mengutip hasil survei yang menyebut warga NU mencapai sekitar 57 persen dari total penduduk muslim Indonesia.

Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang disebut sekitar 244 juta orang, Yahya memperkirakan warga NU mencapai lebih dari 120 juta orang.

“Ini sangat besar dan sekaligus tanggung jawab yang luar biasa,” ujar Gus Yahya.

Gus Yahya mengatakan setelah melalui perenungan panjang, PBNU sampai pada keyakinan bahwa organisasi NU harus bekerja sama dengan pemerintah apabila ingin menghadirkan manfaat yang nyata bagi warganya.

Menurutnya, NU harus mampu menjadi penyangga yang membantu kelancaran penyaluran berbagai program dan agenda pemerintah agar manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat.

Karena itu, salah satu prinsip penting NU ke depan adalah mengoordinasikan berbagai ikhtiar organisasi dengan pelaksanaan agenda dan program pemerintah.

“Kami mampu mengoordinasikan berbagai macam ikhtiar dengan pelaksanaan berbagai agenda dan program-program, bagaimana agar ke depan NU dapat dikembangkan kinerjanya, dikembangkan kapasitasnya sehingga akan menjadi penghantar yang lebih efektif,” katanya.

Ia menegaskan peningkatan kapasitas tersebut diperlukan agar NU dapat membantu membawa manfaat program pemerintah kepada masyarakat secara lebih efektif.

Selain membantu program pemerintah, Yahya menekankan NU harus mampu menyangga kokohnya negara bangsa dan kehidupan masyarakat Indonesia. Caranya, kata dia, dengan mengembangkan budaya saling tolong-menolong di antara warga.

Gus Yahya mengutip pemikiran KH Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi yang menempatkan prinsip tolong-menolong sebagai salah satu landasan kehidupan bermasyarakat.

Menurut Gus Yahya, masyarakat yang dibangun atas prinsip tersebut tidak akan sibuk memikirkan siapa yang paling berkuasa, siapa yang kurang berkuasa, atau siapa yang berada di posisi tertentu.

Sebaliknya, seluruh elemen masyarakat akan berpikir mengenai kerja sama untuk kepentingan, kekuatan, dan kemuliaan bersama.

“Semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama,” ujarnya.

Karena itu, Gus Yahya menilai Muktamar ke-35 menjadi momentum untuk memperkuat Indonesia melalui semangat saling tolong-menolong. Semangat tersebut, kata dia, tidak boleh hanya berlaku bagi warga NU, tetapi juga bersama seluruh elemen bangsa.

Gus Yahya juga menyampaikan bahwa Muktamar ke-35 akan menjadi momentum penting bagi NU dalam menentukan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.

Sebanyak sekitar 2.232 pimpinan dan perwakilan NU dari seluruh Indonesia akan menentukan arah organisasi sekaligus bagaimana NU membawa lebih dari 120 juta warganya ke masa depan.

Karena itu, Gus Yahya menegaskan arah perjuangan NU tidak boleh bertentangan dengan arah bangsa dan negara.

“Tidak boleh arah Nahdlatul Ulama ini tidak sesuai dengan arah bangsa dan negara,” katanya.

Ia menegaskan hubungan antara NU dan Indonesia tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, NU sejak didirikan memang memiliki komitmen untuk mengukuhkan negara bangsa Indonesia.

Dalam sambutannya, Gus Yahya juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden, serta para tamu undangan yang hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU.

Ia bahkan menyampaikan harapan agar Prabowo kembali hadir dalam Muktamar NU berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 2031.

Gus Yahya menyadari harapan tersebut bergantung pada dinamika politik lima tahun mendatang. Namun, ia tetap menyampaikan keinginannya agar Prabowo dapat kembali menghadiri Muktamar NU.

Muktamar ke-35 NU, kata Gus Yahya, bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, tetapi momentum untuk menentukan arah organisasi dan kontribusi NU bagi bangsa.

Ia berharap keputusan yang dihasilkan dalam lima hari pelaksanaan muktamar dapat membawa NU semakin mampu memberikan manfaat bagi warga dan Indonesia.

“Semoga arah Nahdlatul Ulama dan Indonesia tidak boleh, tidak mungkin bisa dipisahkan,” pungkasnya. (Mukrim).