SAMPANG, nusampang.com Pengurus Cabang Jam`iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Kabupaten Sampang resmi dilantik, Minggu (20/07/2025). Pelantikan tersebut bertempat di Rumah Khas Kalimantan (RKK), kegiatan itu mengusung tema “Syifa’ Bil-qur’an”.

Sebanyak 25 orang pengurus JRA, terdiri dari pengurus harian, divisi-divisi masa khidmat 2025-2030 telah membaca ikrar yang dipandu langsung oleh Ketua Dewan Pembina sekaligus mujiz JRA, KH Allama ‘Alauddin Shiddiqi atau yang akrab disapa Gus Amak.

Ketua PC JRA Sampang, Abd Rosyid mengatakan, tujuan JRA adalah untuk memasyarakatkan Al-Quran sebagai syifa’. Menurut dia, Al-Quran adalah yang pertama dan paling penting. JRA Sampang akan lebih berkembang karena sebelumnya masih umur jagung dengan anggota minim.

Rosyid menegaskan, JRA Sampang akan bekerja keras memperkenalkan Al-Quran sebagai syifa’ dan rahmat bagi umat dan makhluk hidup. “Program kita yang pertama adalah melakukan penataan keorganisasian  tingkat PAC Kecamatan,” katanya.

Dia mengungkapkan, setiap bulan pihaknya mempunyai program, berkumpul bergantian dari rumah ke rumah untuk mengasah ilmu yang telah didapatkan dan sudah diijazahkan oleh mujiz. Dalam kesempatan itu pihaknya juga membaca rotibul Haddad Syaikhona Kholil dan mengadakan Ruqyah Mini (Ruqmin) dengan kapasitas 20 pasien.

“Untuk pengobatannya kita murni menggunakan ayat suci Al-Quran dan sholawat yang telah diajarkan oleh muasis Nahdlatul ulama, pengobatannya umum bukan hanya non medis seperti sihir, ain, jin kiriman dan jin haddam tapi bisa juga untuk penyakit medis,” ungkapnya.

Rosyid berharap, JRA Sampang mendapatkan dukungan di semua tingkatan, baik di tingkat ulama maupun umaro. Tanpa dukungan dari ulama dan umaro, terutama ulama-ulama NU, JRA tidak akan bisa berjalan dengan baik.

“Anggota JRA dulu masih minim sekarang alhamdulillah dengan anggota baru sebanyak 81 kurang lebih menjadi 500 orang,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina JRA, Gus Amak mengatakan, gerakan dakwah melalui pengobatan bukanlah gerakan pencari maisyah, melainkan gerakan yang bertujuan untuk menyeru kepada Allah. Dalam menjalankan dakwah, ia memiliki keyakinan bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang berdoa kepada Allah.

“Kita dakwah melalui pengobatan bukan pengobatan sebagai tujuan, bukan profit oriented. Kita mengartikan perjuangan kita ini sebagai relawan, sukarela dikasih Alhamdulillah, nggak dikasih ya sudah,” tutur Gus Amak.

Dalam konteks ini, adzan menjadi penting dalam Islam karena merupakan salah satu cara untuk menyeru kepada Allah. Bahkan, ada riwayat yang menyebutkan bahwa barang siapa yang ngobrol atau bergosip saat adzan, maka dia akan mati dengan su’ul khotimah.

“Ketika ada orang sakit, fokus kita bukanlah pada kesembuhan fisik saja, melainkan juga pada pembinaan spiritual. Kalau ada orang sakit wajib sabar. Kita harus mengajak pasien kita yang sakit untuk bersabar dulu agar nantinya mendapatkan nikmat dan bersyukur,” ujar Gus Amak.

Ditempat yang sama, Ketua PCNU Sampang, KH Moh Itqan Bushiri mengatakan, siapapun bisa melaksanakan ruqyah asal ada sambung sanadnya. Bila tidak bersanad maka akan seperti lampu tanpa kabel, bersinar tapi tidak akan lama.

“Nahdlatul Ulama’ selalu mengajarkan tentang sambung sanad karena kalau tidak sambung sanad itu akan berbahaya. Kalau tidak sambung sanad, ruqyah itu tidak akan efektif,” kata KH Itqan Bushiri singkat. (Mukrim)