SAMPANG, NUsampang.com Perjalanan panjang tim NUSANTARA PCNU Sampang di Kecamatan Kedungdung akhirnya tiba di garis akhir, Jumat (07/11/2025) malam.

Wakil Ketua PCNU Sampang, KH Syamsudin Abdul Mu’in, menutup rangkaian safari ke-NU-an di Ranting Banjar, Kecamatan Kedungdung, menandai tuntasnya program pembinaan di 18 desa.

Dalam sambutannya, KH Syamsudin menyampaikan rasa syukur atas selesainya pelaksanaan NUSANTARA yang merupakan singkatan dari NU Sampang Menata Ranting yang telah digelar secara maraton di seluruh desa di Kecamatan Kedungdung.

“Alhamdulillah, malam ini menjadi putaran terakhir di Kedungdung. Kami sudah menuntaskan program NUSANTARA di 18 desa, seluruh ranting di kecamatan ini,” ujar Kiai Syamsudin penuh haru dan semangat.

Ia menegaskan bahwa program NUSANTARA bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya serius untuk memperkuat tali silaturahmi antara PCNU, MWC NU, dan Ranting, sekaligus melakukan penguatan keorganisasian.

“Ranting NU adalah ujung tombak NU dalam menjaga aqidah dan memberdayakan umat di tingkat paling bawah. Karena itu, kami berharap gerakan NUSANTARA bisa membuat ranting lebih berdaya dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga desa,” jelasnya.

Kiai Syamsudin juga menegaskan, PCNU Sampang tidak ingin membebani ranting dengan program besar yang sulit dijalankan. Pihaknya hanya menitipkan dua agenda pokok yang harus dijalankan secara istiqamah, yakni Lailatul Ijtima dan Gerakan Koin NU

Menurutnya, Lailatul Ijtima’ bukan hanya forum keagamaan yang penuh keberkahan, tetapi juga menjadi ruang efektif untuk konsolidasi antar-pengurus dan warga NU di tingkat desa.

Gerakan Koin NU, lanjutnya, menjadi pilar penting dalam membangun kemandirian umat. Dana yang terkumpul dari masyarakat akan digunakan untuk kebutuhan organisasi sekaligus pelayanan sosial bagi warga yang membutuhkan.

Dengan rampungnya putaran terakhir NUSANTARA di Kedungdung, PCNU Sampang menegaskan komitmennya: menata ranting bukan sekadar slogan, tapi gerakan nyata menumbuhkan kembali semangat jamaah, jam’iyyah, dan kemandirian umat di akar rumput.