PULAU MANDANGIN, NUsampang.com.
Konferensi ke-III Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, pada Ahad (17/05/2026) dibuka langsung oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang, KH M Itqan Bushiri.

Konferensi ini dihadiri Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) jajaran pengurus MWCNU Pulau Mandangin, Banom (Badan Otonom) seperti Muslimat, Fatayat, Ansor dan juga Banser.

Dalam sambutannya, Kiai Itqan menyampaikan bahwa konferensi ini bukan sekadar agenda lima tahunan, tetapi menjadi momen penting untuk refleksi, regenerasi, dan penyusunan langkah strategis ke depan.

“Konferensi ini merupakan permusyawaratan tertinggi untuk mengevaluasi, menyusun program, dan melanjutkan estafet kepemimpinan dengan semangat kebersamaan. NU harus terus hadir sebagai solusi atas permasalahan umat,” tegasnya di hadapan para peserta yang hadir dengan penuh antusias.

Lebih lanjut, Kiai Itqan mengapresiasi kinerja pengurus MWCNU Mandangin selama masa khidmat sebelumnya yang dinilainya telah menunjukkan dedikasi dan keseriusan dalam menggerakkan roda organisasi.

Kiai Itqan berharap, kedepan MWCNU Pulau Mandangin harus lebih mengakar lagi, strukturnya harus sampai ke tingkat anak ranting.

“Kita berharap, kepengurusan MWCNU Mandangin kedepan bisa membawa semangat baru sekaligus memperkuat jaringan hingga di tingkat anak ranting,” harapnya.

Menurut Kiai Itqan, NU bukan organisasi biasa. NU adalah jam’iyah rintisan para ulama, sehingga jangan sampai dikotori oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

“Kalau kita punya kepentingan-kepentingan tertentu, jangan jadikan NU sebagai kendaraan. Jangan jadikan NU sebagai batu loncatan untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya pragmatis,” paparnya.

Menjalankan NU, menurut Kiai Itqan tidak sama dengan menjalankan partai. NU punya tradisi khas yang harus dipelihara. NU adalah jam’iyah diniyah, islamiyah, dan ijtima’iyah laisa jam’iyah siyasiyah.

“Jadi, mari tradisi khas ini kita pelihara. Jalankan NU dengan cara-cara NU, jalankan NU dengan tradisi-tradisi yang sudah pakem di lingkungan NU,” ajaknya.

Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya penguasaan media digital di era modern, khususnya dalam mendakwahkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah secara lebih luas dan tepat sasaran.

“Di era milenial yang penuh tantangan, kita harus mampu memanfaatkan media digital dan media sosial untuk membangun citra organisasi yang lebih baik dan menjangkau lebih luas,” tegasnya.

Kiai Itqan juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat ini PCNU Sampang akan melakukan sosialisasi terkait pesantren ramah anak.

“Pesantren harus menjadi tempat yang aman dan humanis bagi santri. Kami ingin pesantren di Sampang benar-benar bersih dari kekerasan dan menjadi tempat yang ramah bagi anak,” ucapnya.

Kiai Itqan menyebut bahwa sosialisasi pesantren ramah anak ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran hukum di kalangan pesantren. Bagaimana santri ini bisa betah di pondok pesantren dengan segala peraturannya. Peraturan yang betul-betul membimbing.

“Karena yang kami ketahui, pengurus itu diambil dari kalangan santri juga. Artinya dari keluarga besar pesantren itu hanya berkegiatan mengajar, para santri dipasrahkan kepada seniornya. Nah, seniornya ini juga masih remaja. Jadi perlu kita fasilitasi itu,” tandasnya.