[ad_1]
Semarang nusampang.com– Isu keagamaan menjadi paling seksi, terlebih yang terkait agama, kepemimpinan, dan negara. Disebutkan, persebaran hoaks / kabar bohong di media sosial telah membuat Suriah rusak parah dari yang sebelumnya terkenal kemakmuran dan keindahannya. Kerusakan tersebut terjadi lantaran hoaks membuat kemarahan warga dan menjadi masuknya jaringan ISIS.
Parahnya hoaks tentang Presiden Bashar Assad seperti Bashar Assad mengganti surat Al Ikhlas dengan Al Asad, dan Bashar Assad mengaku Tuhan diperkuat oleh media online dan media sosial di Indonesia. Ironisnya, Kominfo belum melakukan pemblokiran.
“Ada banyak portal media yang menyebarkan hoaks tersebut sampai sekarang belum ditutup oleh Kominfo,” kata penulis buku Daulah Islamiyah dalam Alquran dan Sunnah, M Najih Arromadloni saat menjadi narasumber simposium kebangsaan GP Ansor Kota Semarang di Aula Balaikota Semarang, Jalan Pemuda 148, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Selain itu, Gus Najih, membeberkan hoax dan radikalisme berjalan dalam 1 paket karena dianggap sebagai strategi perang. “Indonesia dianggap negara perang karena sistemnya tidak islam. Karena itu berbohong diperbolehkan sebagai strategi perang,” bebernya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Najih juga mengingatkan, permainan teknologi kaum yang memperjuangkan khilafah memang sudah amat jauh. HTI bahkan sudah memiliki karikatur yang jumlah subcribernya ribuan dalam seminggu release perdana. Dalam dua tahun berjalan, kini sudah jutaan. “Nusa dan Rara ini rencananya akan naik ke layar lebar,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Farid Zamroni yang memaparkan fenomena hoaks dari sisi statistik, proses persebaran dan dampaknya. Selain itu, Farid juga memberikan tips-tips mengenali hoaks, termasuk melakukan kroscek terhadap media online.
Peserta Membludak
Respon positif kegiatan tersebut nampak dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 500 orang. “Peserta membludak dari jumlah yang ditargetkan semula 150 peserta,” kata Ketua GP Ansor Kota Semarang, Rahul Syaiful Bahri
Padahal, lanjutnya, acara tersebut digagas bersama tim Cyber Ansor Kota Semarang pada minggu lalu. Ternyata acara semacam ini sangat diminati generasi milenial. “Kita berharap tim cyber Ansor terus bergerak untuk mencegah penyebaran radikalisme dan terorisme di dunia maya,” harapnya.
Rahul berharap, Cyber Ansor yang telah memiliki saluran youtube dengan nama blendoek channel dapat memberikan nuansa tersendiri dalam bermedia sosial. Melalui akun resmi tersebut diharapkan dapat memberikan pencerahan atau klarifikasi dan pemahaman dalam praktik hidup bernegara. “Kita tidak boleh kalah dengan para perusak NKRI,” tegasnya. (Rep: A Rifqi Hidayat/Ed: Rs-011)
Post Views:
15
Related
[ad_2]


Tinggalkan Balasan