Penulis: Atiqurrahman (Anggota LTNU Pulau Mandangin).

PULAU MANDANGIN, NUsampang.com.
Beberapa hari lagi MWC NU Pulau Mandangin akan menggelar Konferensi. Momentum ini bukan sekadar tentang pergantian pengurus belaka, melainkan sebagai ruang konsolidasi organisasi dan proyeksi gagasan masa depan.

MWC NU Pulau Mandangin memiliki dinamika sejarah yang cukup panjang. Jika di telusuri, ia tumbuh dan berkembang sejak tahun 1960an melalui peran figur Kiyai dan jejaring pesantren.

Keberadaannya kini telah dirasakan oleh masyarakat. Bahwa ia tak hanya kokoh dalam menjaga dan merawat tradisi islam ala An-Nahdliyah, tapi juga berkontribusi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di antaranya adalah program santunan dan pemberian beasiswa kepada anak-anak yatim yang digelar secara rutin dan konsisten setiap tahun–tepatnya saat bulan Muharram tiba.

Program itu salah satu bentuk manifestasi pengabdian dan kepedulian MWC NU Pulau Mandangin atas kemanusiaan.

Meneguhkan Jam’iyyah

Dalam perjalanannya, pelan tapi pasti, MWC NU Pulau Mandangin terus saja berbenah dan berubah. Ia selalu memperkuat formasi struktur kelembagaannya.

Saat ini sudah ada Tiga Ranting NU, Lima Badan Otonomi, dan Tiga Lembaga yang bernaung dalam struktur tubuh MWC NU Pulau Mandangin.

Dan pertemuan tiga bulanan yang digelar secara rutin dan bergilir, bukan sekadar program seremonial semata, melainkan upaya konsolidasi lintas pengurus NU agar tetap solid dan kohesif.

Ini menunjukkan sebuah tekad dan komitmen MWC NU Pulau Mandangin untuk terus meneguhkan Jam’iyyahnya sebagai garda terdepan dalam menjaga faham Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah.

Selain itu, ia juga melaksanakan pendidikan dan kaderisasi baik formal atau informal untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan bagi kader-kader NU, khususnya anak-anak muda.

Sebab kaderisasi adalah ruang penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai ke-Nuan guna menyiapkan para kader untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di masa depan. Tanpa ruang kaderisasi, nyaris dipastikan nasib organisasi tidak akan bertahan lama.

Merawat Peradaban

Menurut Gus Yahya, tujuan lahirnya NU tiada lain untuk menggapai cita-cita peradaban. Kepemimpinan NU sejak awal hingga sekarang terlibat dalam upaya mewujudkan tatanan kehidupan yang baik, harmonis, adil, dan makmur.

Cita-cita luhur ini, tercermin dalam setiap kepengurusan NU dari tingkat nasional hingga desa. Kerja-kerja keorganisasiannya selalu berorientasi pada kemaslahatan umat.

Di tingkat nasional, Gus Yahya berhasil meletakkan agama sebagai spirit perdamaian global. Ia mengorkestrasi pertemuan R20 sebagai forum titik temu antar agama di dunia. Ia juga merumuskan fiqih peradaban yang lebih sesuai dengan realitas zaman saat ini.

Sementara itu, di tingkat desa, para pengurus NU ikut andil dalam rekayasa perubahan sosial di desa. Sebagaimana yang dilakukan oleh MWC NU Pulau Mandangin.

Agenda Pekan Muharram yang digelar setiap tahun tidak hanya sebatas peringatan tahun baru islam, tetapi juga momentum perayaan bagi pelaku kesenian lokal, para pelaku usaha, dan tumbuhnya empati sosial.

Agenda tersebut jelas bagian kecil dari kerja-kerja peradaban. Sebab manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat desa. Di samping itu, agenda penguatan struktur, peningkatan kapasitas kader, dan budaya organisasi juga dilakukan.

Semoga upaya kerja-kerja peradaban ini terus terjaga, terawat, dan tetap konsisten dijalankan oleh kepengurusan berikutnya, sambil merumuskan program-program baru yang lebih inovatif dan progresif.

Sebab konferensi bukan sekadar tentang suksesi kepemimpinan semata, melainkan ruang jawaban dari segenap artikulasi kebutuhan masyarakat.